Work Text:
Past and present, from death to life.
It's you.
It's always been you.
○
"Jangan membuat masalah, dan jangan selalu menolak apapun yang mereka tawarkan sebelum mendengar tawaran penuh mereka."
"Thomas."
" setidaknya dengarkan dulu tawaran mereka atas lukisanmu, sebelum menolaknya mentah-mentah. Ingat-"
"Thomas!"
Thomas yang bersiap melanjutkan ucapannya terhenti ketika mendapati mata Rafayel yang biasa terlihat acuh dan penuh nakal menatapinya dengan kesal.
"Aku mengerti." Ucap pelukis itu dengan tegas sebelum meninggalkan Thomas dengan langkah yang sedikit dicepatkan, jelas ingin menghindar dari agennya itu.
Rafayel memusatkan perhatiannya lurus, mengabaikan banyak pasang mata yang melirik kearahnya, jelas sedang memperhatikan geriknya dengan tujuan untuk bertukar kata, dan jika bisa, memperkenalkan diri mereka lebih jauh agar bisa diingat oleh pelukis ternama yang mampu menciptakan karya-karya fenomenal yang berhasil mencuri banyak perhatian itu.
Bukannya tidak ingin berkompromi atau merasa sombong, tapi Rafayel sedikit muak dengan pasang-pasang mata yang menatapinya itu. Kebanyakan mata itu hanya melihat sisi luar dirinya dan lukisannya saja. Memuji cangkang dan tidak pernah mau melihat lebih jauh siapa Rafayel dan perasaan apa yang ingin digambarkannya lewat sapuan kuasnya.
Kali ini, sedikit berbeda dari biasanya. Rafayel mengadakan pameran lukisan di daerah yang 'sedikit' lebih berbeda. N109 Zone.
Daerah dimana semua kegiatan 'gelap' dan dimana hukum ditetapkan oleh yang terkuat.
Dimana banyak uang dan kesempatan berkumpul, kata Thomas saat meyakinkan Rafayel beberapa waktu lalu, saat dirinya masih ragu untuk mengadakan pamerannya di daerah yang tidak tersentuh oleh hukum normal.
Aman?
Bagi Rafayel, keamanan adalah hal yang relatif. Bahkan di kota sejahtera dengan tingkat keamanan tinggi seperti Linkoln, keamanan pribadinya pun tidak terjamin. Jadi, bagi Rafayel, apa bedanya Linkoln City dan N109 Zone? Tidak ada.
Saat pikirannya berjalan entah kemana, kaki Rafayel dengan hafal membawanya menuju sudut pameran yang jauh lebih sepi, dimana salah satu lukisan 'paling biasa'nya dipamerkan.
Perlahan, sebuah senyuman penuh nostalgia terukir di bibir Rafayel. Lukisannya yang satu ini, walaupun terlihat indah, entah kenapa tidak banyak dilirik ataupun ditawar oleh peminat lukisannya. Tapi, bagi Rafayel, lukisannya yang satu inilah hang paling berkesan. Entah karena goresannya, ataupun perasaan nyaman yang ditimbulkan didalam dirinya saat melihat perpaduan merah, hijau, hitam, dan kuning diatasnya.
Lukisan itu bukan lukisan penuh artistik seperti yang banyak di minati banyak orang, hanya sebuah lukisan bangunan kuno indah berwarna merah yang dibangun diatas danau gelap dan diselimuti oleh pepohonan rindang dan gelapnya malam. Sungguh lukisan yang biasa-biasa saja, tapi perasaan yang ditimbulkan oleh lukisan ini pada diri Rafayel penuh dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan.
Langkah kaki Rafayel terhenti ragu ketika mendapati seseorang sedang berdiri didepan ‘lukisannya’ dengan tatapan mata yang anehnya menggambarkan nostalgia yang sama dengan yang selama ini Rafayel rasakan setiap kali melihat lukisan itu.
Orang itu… pria itu, Rafayel tidak bisa menggambarkan orang itu dengan jelas selain ‘besar’.
‘besar’ dan memancarkan aura bahaya yang enggan Rafayel dekati.
Rafayel baru saja akan memutar balik langkahnya ketika pria itu juga berbalik, lalu kemudian tatapan mereka berdua bertemu.
Ada keterkejutan didalam pandangan pria itu, lalu keakraban, kehangatan, kegembiraan, dan juga rindu… rindu yang terlalu besar untuk di tampung oleh seseorang yang tidak pernah Rafayel kenal sebelumnya.
Sebuah senyuman kecil mulai tersungging di bibir tipisnya ketika pria itu seakan menyadari jika Rafayel hanya memandanginya dengan heran. Heran dan asing.
Perlahan, senyuman kecil yang belum sempat merekah itu tergantikan dengan kerutan yang entah mengapa membuat jantung Rafayel berdetak tidak nyaman.
Entah berapa lama mereka saling memandang tanpa bersuara, sama sekali tidak menghiraukan lirik dan bisik yang mengelilingi keduanya, seakan berada dalam gelembung mereka sendiri. Rafayel memperhatikan setiap perubahan tatapan pria itu padanya dengan penuh konsentrasi, penuh takjub yang tidak begitu dia pahami.
Setelah detik yang terasa seperti puluhan jam yang tidak terhitung berakhir. Semua emosi yang ditampilkan pada mata pria itu pudar, seakan pemiliknya menutup jendela yang terbuka lebar yang dibuka dengan sukarela untuk Rafayel, rapat.
Semua emosi yang sempat di tunjukkan dengan suka rela berganti dengan tatapan dingin yang menghalangi siapapun untuk mendekat. Rafayel tidak menyukai tatapan itu.
Apapun alasannya.
Kakinya bergerak tanpa sadar, melangkah untuk mendekati pria yang mencuri perhatiannya.
Rafayel baru saja akan membuka suaranya, entah untuk mengucapkan apa. Mungkin apapun, apapun untuk menyingkirkan tatapan dingin itu, ketika sebuah tangan merangkulnya dan dengan cepat membawanya menjauh dari pria itu.
“aku memang memintamu untuk bergaul dan mendengarkan tawaran untuk lukisanmu, bertemu dengan klien baru. Tapi bukan dia! Tuhan, jangan dia Rafayel!”
Tersadar dari kabut takjub yang mempengaruhinya beberapa saat yang lalu, Rafayel menghela nafas lelah.
“memangnya kenapa?” Tanya Rafayel, sedikit merasa kesal karena gangguan Thomas, entah kenapa.
“pria itu adalah Sylus!”
“Sylus?”
“ya, Sylus. Pemimpin Onychinus, salah satu organisasi paling berbahaya di N109 Zone. Jangan berurusan dnegannya Raf, tidak ada hal baik untuk orang-orang yang terlalu dekat dengan pusat kekacauan N109 Zone.”
Mendengar ucapan Thomas, Rafayel mengerutkan keningnya, lalu entah atas dorongan apa, Rafayel melirik untuk yang terakhir kalinya pada sosok ‘besar’ itu. Dan sekilas, pandangannya kembali pertemu dengan sepasang bola mata merah pemimpin Onychinus itu.
Saat ini, jarak diantara keduanya terlalu jauh bagi Rafayel untuk mengartikan tatapan pria itu. Tapi sekilas, sekilas Rafayel merasa jika tatapan itu penuh dengan kesedihan.
Sylus….
○
"Qi Yu.... benar-benar jahat. Kamu memintaku untuk tidak melupakanmu. Tapi kamu berbalik dan melupakanku..." gumam Sylus, matanya masih belum lepas memandangi punggung familiar yang sekarang terasa asing itu.
"Apa... yang harus kulakukan sekarang? Terus menunggu sampai kamu 'ingat'? Atau akhirnya melepaskan semuanya?"
Qin Che, tidak, Sylus. Sekarang namanya adalah Sylus.
Sylus memandangi punggung Qi Yu dengan mata sendu yang menyembunyikan rindu yang menumpuk selama beratus-ratus tahun. Akhirnya, dengan tekad untuk merelakan, Sylus tersenyum tipis, mencoba untuk melepaskan.
Saat Sylus menetapkan hatinya untuk akhirnya melepaskan, pandangannya kembali bertemu dengan mata itu. Mata yang terus menemani mimpinya selama ratusan tahun.
Membawa kembali ingatan pertemuan pertama mereka. awal penantiannya yang serasa tidak akan pernah berakhir.
Sylus, saat itu dirinya masih menggunakan nama Qin Che.
Saat itu Qin Che tidak bisa menggambarkan dengan jelas warna mata ataupun perasaan yang ditimbulkan saat Qin Che pertama kali bertatapan dengan pemiliknya.
Qin Che tidak tau nama pria itu, yang dia tau hanyalah pria itu adalah penguasa laut, raja para kaum Lemurian, siluman penghuni bawah laut yang mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup kaumnya.
Seorang raja yang menjerumuskan dirinya sendiri kedalam kubangan gelap Onychinus, Menjual jiwanya dalam kegelapan abadi bersama penghuni kegelapan lainnya seperti Qin Che untuk menjamin keselamatan kaumnya.
Seorang raja yang jatuh dalam kegelapan.
Sebuah cahaya yang ditenggelamkan dalam ketidakadaan.
Qi Yu, nama raja yang kehilangan mahkotanya itu adalah Qi Yu. Setelah berbulan-bulan hanya saling bertukar tatapan akhirnya Qin Che mendapatkan namanya.
Qi Yu… tidak seperti Qin Che yang sudah tercemar oleh kegelapan. Qi Yu, masih memiliki cahayanya. Masih memiliki mimpinya untuk keluar dari Onychinus, dan bebas. Melihat kembali keindahan dunia, jauh dari gelapnya Onychinus.
“Qin Che… jika saat itu tiba. Kamu ikutlah bersamaku.” Ucapnya, dengan mata bersinar. Penuh harapan agar Qin Che mengiyakan.
“saat seseorang menjual jiwanya pada Onychinus, orang itu akan kehilangan identitasnya di dunia atas. Tidak lagi memiliki tempat diantara kaummu, apa yang akan kamu lakukan jika berhasil keluar dari sini?” jawab Qin Che penuh kesabaran yang sangat bertentangan dengan tubuh besarnya.
“mengelilingi dunia, melihat semua keindahan ciptaan para dewa, mencicipi semua makanan yang ditemukan… kita bisa melakukan apapun. Bukankan itu leih baik? Bebas melakukan apapun, hanya ada Qi Yu dan Qin Che, tanpa belenggu Onychinus, tanpa belenggu tanggung jawab seorang pemimpin. Hanya kita, dua orang yang tidak memiliki apa-apa selain satu sama lain.”
Qin Che mengingatnya… jelas. Lentera merah yang menyinari wajah indah Qi Yu, hembusan angin lembut yang menerbangkan helaian rambut mereka, senyuman penuh cahaya Qi Yu. Qin Che masih mengingat jelas semuanya bahkan berratus-ratus tahun setelahnya.
Malam itu, adalah awal ambisi Qin Che satu-satunya lahir. Mengeluarkan Qi Yu dari Onychinus, mengembalikannya ke dunia yang penuh dengan keindahan, dan terjauh dari kegelapan menyesakkan yang bernama Onychinus.
Apapun yang terjadi, Qin Che akan mengeluarkan Qi Yu dari Onychinus. Sebesar apapun harga yang harus dia bayar.
Qin Che akan mewujudkan keinginan Qi Yu, apapun.
○
Qi Yu menangis… setiap bulir air matanya bersinar terang dibawah ribuan lentera merah Onychinus, sebelum berubah menjadi mutiara. Mutiara yang menumpuk di antara tubuh lelah Qin Che yang dipeluk erat oleh Qi Yu.
“bukan ini yang kuinginkan… bukan ini…” gumamnya, sambil memeluk tubuh Qin Che, tidak memperdulikan genangan darah dan butiran mutiara yang berserakan disekitar mereka.
“jangan menangis… jangan pernah menangis lagi… bukankah ini bagus? Setelah ini, kamu akan mendapatkan kebebasanmu. Mengelilingi dunia, melihat keindahannya, dan merasakan berbagai hidangan lezat di seluruh dunia…. Setelah ini, kamu akan bisa melakukan semuanya.”
“tapi kamu… kamu…”
Tidak tahan dengan air mata Qi Yu, Qin Che memaksakan bibirnya yang kaku untuk tersenyum. Mencoba menenangkan Qi Yu yang terlihat akan kembali mulai histeris.
“Qi Yu… 700 tahun adalah waktu yang lama. saat kita bertemu kembali… apa kamu akan mengingatku?”
“ingat.. aku akan selalu mengingatmu. Kamu juga, tepati janjimu… 700 tahun adalah waktu yang lama. selalu mengingatku hhm? Tunggu aku kembali…”
“selalu… selalu…”
“jangan mengingkari janjimu Qin Che, atau aku akan marah!” ucap Qi Yu dengan kemarahan yang di buat-buat, mencoba menyembunyikan urgensi yang nyatanya tetap tidak bisa disembunyikan.
"Qin Che!"
"Aku berjanji Qi Yu, aku berjanji. Dan aku akan menunggumu. Selalu."
Perlahan, sebuah kabut menyelimuti tubuh Qi Yu, membawa sosoknya memudar, memisahkannya dari nyata Qin Che.
“tidak akan pernah. Qi Yu, aku tidak akan pernah melupakanmu.” Bisiknya, saat kabut itu menghilang, membawa Qi Yu bersamanya. Memisahkan Qin Che dari ambisinya.
Di saat sisa kesadarannya semakin memudar, Qin Che kembali teringat pada percakapannya bersama Qi Yu dibawah salah satu lentera merah Onychinus bertahun-tahun lalu.
"Qin Che! Berjanji kalau apapun yang terjadi, sepanjang hidupmu, kamu tidak akan pernah melupakanku!" Ucap Qi Yu dengan wajah tegas. Tapi, ketegasan itu hanya terartikan menjadi sikap manis di mata Qin Che.
"Berjanji, aku berjanji." Ucapnya, penuh dengan toleransi memanjakan yang hanya pernah dia berikan pada Qi Yu.
Aku berjanji...
Aku berjanji.
Bayangan masa lalu perlahan memudar dari mata Sylus. Matanya kembali melirik pada lukisan bangunan kuno bernuansa merah yang menyembunyikan kegelapan didalamnya. Tidak ada yang tau kegelapan macam apa yang disembunyikan bangunan merah indah penuh lentera itu. Tidak ada lagi yang tau.
Hanya Sylus. Hanya Sylus seorang yang kini mengetahui kegelapan Onychinus. Dan janji yang diutarakan didalamnya.
Janji yang mungkin tidak akan bisa ditepati.
